gravatar

Kiri (Juga Kanan)

TEMPO menerbitkan buku seri “orang kiri” Indonesia. Empat tokoh Partai Komunis Indonesia-Muso, Aidit, Njoto, dan Sjam-telah dituliskan riwayatnya. Dari segi historiografi, publikasi seri itu cukup penting, setidaknya untuk menghindari “bahaya pemberhalaan” sejarah–mengutip Peter Burke dalam The French Historical Revolution (1990)–terhadap tokoh politik tertentu, tapi, sebaliknya, mengabaikan figur yang lain. Kita tahu, selepas tragedi 30 September 1965, orang-orang kiri, yang tak lain anggota PKI, dianggap lawannya sebagai momok politik yang harus dibasmi dan, karena itu, sejarahnya pun dikubur dengan dendam. Dari segi bahasa, masih sering muncul pertanyaan bagaimana asal-usul istilah kiri terbentuk. Pengantar umum dalam seri penerbitan tersebut tidak menjelaskan sangkan paran (bahasa Jawa: asal-usul, RB) istilah itu. Jika sekadar kosakata, kiri, seperti halnya kanan, merupakan nomina yang berfungsi sebagai penunjuk tempat, seperti “samping kiri/kanan”–dari arah kita melihat; juga sebagai ajektiva, semisal “mata kiri/kanan”. Lalu kiri/kanan berfungsi sebagai kata keterangan, “belok kiri/kanan”. Jadi tugas kata kiri/kanan cukup komplet. Namun kita memandang keduanya secara diskriminatif: kiri berarti negatif, sedangkan kanan bermakna positif. Terhadap bagian tubuh sendiri, misalnya, kita melarang tangan kiri untuk bersalaman atau menerima sesuatu dari orang lain kecuali dalam keadaan terpaksa. Sedangkan “tangan kanan” adalah ungkapan tentang seseorang yang sangat diandalkan. Maka arti kata kiri/kanan mengandung nilai tertentu. Dalam “protokoler” wayang kulit, saat tidak dimainkan, tokoh-tokoh raksasa selalu dijejerkan di layar bagian kiri dari posisi duduk ki dalang, sedangkan para kesatria berada di deretan kanan. Secara tipikal, para raksasa digambarkan berwatak brangasan, kasar, sedangkan kesatria berperilaku santun. Artinya, mereka yang berjajar di sebelah kiri bercap buruk rupa, sedangkan yang di barisan kanan adalah kaum berbudi dan suci karena tokoh dewa-dewa termasuk di dalamnya. Berkah Revolusi Prancis abad ke-18, kata kiri/kanan masuk ke leksikon politik. Kala itu, kekuatan politik di parlemen Prancis yang terbentuk setelah gejolak revolusi terbelah menjadi tiga: (1) kaum konservatif yang ingin mempertahankan monarki tapi dibatasi konstitusi, (2) kawanan radikal yang ingin membentuk republik, dan (3) kelompok moderat yang berpijak di antara keduanya. Dalam tata krama sidang, grup konservatif duduk mengelompok di bagian kanan ruang sidang, sedangkan kaum oposisi di sebelah kiri, dan moderat di tengah. Sejak saat itulah muncul istilah rightist dan leftist atau “sayap kiri” dan “sayap kanan”. Dengan demikian, istilah kiri pada masa awal setelah Revolusi Prancis sejatinya lebih menekankan pada kelompok atau kekuatan oposisi, bukan komunismenya. Artinya, “orang kiri” dalam politik di parlemen Prancis itu belum tentu kaum komunis-apalagi partai komunis belum terbentuk ketika itu. Jika istilah kiri mengacu pada “oposisi”, siapa pun yang menempatkan diri di seberang pemerintah-apa pun warna politiknya-mestinya bisa disebut “kiri” tanpa cap komunis. Bukankah Lu Xun, sastrawan terkenal Cina, tergolong orang kiri tapi bukan komunis (menurut penilaian I. Wibowo dalam Kalam, 17/2001). Di Indonesia, istilah kiri/kanan juga bergema luas di jagat politik. Dalam monografinya, Indonesian Communism: A History (1963), Arnold Brackman memakai ungkapan the left modified untuk menjelaskan tingkah laku politik PKI yang bersifat radikal dan berorientasi internasional, dilawankan dengan rightist symptoms, yang merupakan kecenderungan politik nasional yang cinta Tanah Air. Skripsi aktivis Soe Hok Gie menggunakan judul “Simpang Kiri dari Sebuah Jalan” (1969), kemudian diterbitkan menjadi Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (1997), berkisah tentang pemberontakan (boleh juga dibaca pengkhianatan) PKI di Madiun pada 1948. Kata kiri telah berkembang menjadi istilah ideologis, dan menakutkan untuk sementara pihak. Barangkali hanya orang tua yang sangat menyayangi anaknya yang justru secara sadar menyarankan kepada si anak untuk selalu ambil jalan kiri. Seperti pesannya tatkala si anak pergi ke sekolah, “Hati-hati, jalanlah di sebelah kiri.” sumber : Majalah Tempo, 30 Mei 2011. Kasijanto Sastrodinomo: Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

...lanjutkan baca...
gravatar

Dukung Film Dokumenter "Pantai" Ambon



Selamat Siang Bloger's Postingan kali ini penulis buat dikarenakan tanpa sengaja penulis melihat salah satu Siaran di TV Swasta "Metro TV" nama Acaranya Eagle Awards.. tentang Kompetisi Film" Dokumenter karya Anak Bangsa dan kebetulan pas penulis nyetel Tipi, Profil film dokumenter PANTAI yang penulis liat...

Tulisan inipun bentuk apresiasi penulis kepada tokoh utama dalam film itu serta semua yang terlibat dalam pembuatan film itu.. anak negeri Maluku yang kreatif dan Inspiratif....

Kurang lebih film "PANTAI" tersebut menceritrakan bagaimana seorang anak negeri yang biasa saja bahkan cendrung terlihat seperti "Preman Kambuhan" dengan Tatto dan tindikan di kupingnya..... tapi penampilan luar tersebut berbanding terbalik dengan apa yang telah beliau lakukan terhadap keberlangsungan Lingkunagan Hidup.Pokoknya T.O.P.B.G.T.D.E.H. :D Beliau sangat peduli dengan Kelestarian alam pembuktian nyatanya ialah beliau melakukan pembibitan hingga penanaman Pohon Mangrove / Bakau "Manggi-manggi" di areal Pantai tanpa ada perintah dari siapapun dan tendensi apapun menurut beliau ini hanya semata-mata untuk keberlangsungan hidup masyarakat luas dan lingkungan itu sendiri...... sebagaimana kita tahu betapa pentingnya Mangrove bagi Lingungan Hidup lainya seperti yang telah penulis muat dalam postingan sebelumnya di


Kalimat atau monolog yang sempat terekam diingatan penulis tadi malam bahwa..... Manggi-manggi Mati baru Beta Mati... #Asli Bakar Manyala Kaka

Walapun Penulis tidak mengenal dengan tokoh atau pembuat Film Pantai, bukan juga promotor atau apapun.... namun berharap agar siapapun yang membaca postingan ini agar memberikan dukungan pada Film Dokumenter "PANTAI" ini diajang Eagle Awards dengan Cara :

Ketik EA (SPASI) PANTAI

Kirim ke : 9899

- Ada hadiahnya untuk Voter pemenang

Video dan Info Lengkapnya cek disini : http://www.eagleawards-doc.com/

Mari masyarakat Pecinta Film Dokumenter dan peduli lingkunagan... Khususnya Basudara Maluku semua mari dukung Film Dokumenter "PANTAI" ini diajang Eagle Awards

Demikian postingan inspiratif  Singkat ini.... semoga ini memotivasi kita semua dalam hal Kepedulian Terhadap Lingungan

    Penulis

@RayyaGiri

...lanjutkan baca...
gravatar

PERANAN, MANFAAT DAN FUNGSI HUTAN MANGROVE

 

Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Magrove dalam kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir sangat banyak sekali. Baik itu langsung dirasakan oleh penduduk sekitar maupun peranan, manfaat dan fungsi yang tidak langsung dari hutan mangrove itu sendiri.
Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.
Menurut kamus Webster, habitat didefinisikan sebagai "the natural abode of a plant or animal, esp. the particular location where it normally grows or lives, as the seacoast, desert, etc". terjemahan bebasnya kira-kira adalah, tempat bermukim di alam bagi tumbuhan dan hewan terutama untuk bisa hidup dan tumbuh secara biasa dan normal, seperti pantai laut, padang pasir dan sebagainya. Salah satu tempat tinggal komunitas hewan dan tanaman adalah daerah pantai sebagai habitat mangrove. Di habitat ini bermukim pula hewan dan tanaman lain. Tidak semua habitat sama kondisinya, tergantung pada keaneka ragaman species dan daya dukung lingkungan hidupnya.
Telah banyak diketahui bahwa pulau, sebagai salah satu habitat komunitas mangrove, bersifat dinamis, artinya dapat berkembang meluas ataupun berubah mengecil bersamaan dengan berjalannya waktu. Bentuk dan luas pulau dapat berubah karena aktivitas proses vulkanik atau karena pergeseran lapisan dasar laut. Tetapi sedikit orang yang mengetahui bahwa mangrove berperan besar dalam dinamika perubahan pulau, bahkan cukup mengagetkan bila ada yang menyatakan bahwa mangrove itu dapat membentuk suatu pulau. Dikatakan bahwa mangrove berperan penting dalam ‘membentuk pulau’.
Beberapa berpendapat bahwa sebenarnya mangrove hanya berperan dalam menangkap, menyimpan, mempertahankan dan mengumpulkan benda dan partikel endapan dengan struktur akarnya yang lebat, sehingga lebih suka menyebutkan peran mangrove sebagai “shoreline stabilizer” daripada sebagai “island initiator” atau sebagai pembentuk pulau. Dalam proses ini yang terjadi adalah tanah di sekitar pohon mangrove tersebut menjadi lebih stabil dengan adanya mangrove tersebut. Peran mangrove sebagai barisan penjaga adalah melindungi zona perbatasan darat laut di sepanjang garis pantai dan menunjang kehidupan organisme lainnya di daerah yang dilindunginya tersebut. Hampir semua pulau di daerah tropis memiliki pohon mangrove.
Bila buah mangrove jatuh dari pohonnya kemudian terbawa air sampai menemukan tanah di lokasi lain tempat menetap buah tersebut akan tumbuh menjadi pohon baru. Di tempat ini, pohon mangrove akan tumbuh dan mengembangkan sistem perakarannya yang rapat dan kompleks. Di tempat tersebut bahan organik dan partikel endapan yang terbawa air akan terperangkap menyangkut pada akar mangrove. Proses ini akan berlangsung dari waktu ke waktu dan terjadi proses penstabilan tanah dan lumpur atau barisan pasir (sand bar). Melalui perjalanan waktu, semakin lama akan semakin bertambah jumlah pohon mangrove yang datang dan tumbuh di lokasi tanah ini, menguasai dan mempertahankan daerah habitat baru ini dari hempasan ombak laut yang akan meyapu lumpur dan pasir. Bila proses ini berjalan terus, hasil akhirnya adalah terbentuknya suatu pulau kecil yang mungkin akan terus berkembang dengan pertumbuhan berbagai jenis mangrove serta organisme lain dalam suatu ekosistem mangrove.
Dalam proses demikian inilah mangrove dikatakan sebagai bisa membentuk pulau. Sebagai barisan pertahanan pantai, mangrove menjadi bagian terbesar perisai terhadap hantaman gelombang laut di zona terluar daratan pulau. Hutan mangrove juga melindungi bagian dalam pulau secara efektif dari pengaruh gelombang dan badai yang terjadi. Mangrove merupakan pelindung dan sekaligus sumber nutrien bagi organisme yang hidup di tengahnya.
Daun mangrove yang jatuh akan terurai oleh bakteri tanah menghasilkan makanan bagi plankton dan merupakan nutrien bagi pertumbuhan algae laut. Plankton dan algae yang berkembang akan menjadi makanan bagi berbagai jenis organisme darat dan air di habitat yang bersangkutan. Demikianlah suatu ekosistem mangrove dapat terbentuk dan berkembang dari pertumbuhan biji mangrove.

...lanjutkan baca...
gravatar

Rusa Indonesia dan Upaya Pelestariannya




Rusa merupakan salah satu jenis satwa yang termasuk dalam bangsa (ordo) Artiodactyla, anak bangsa (sub-ordo) Ruminansia dan suku (family) Cervidae. Saat ini diketahui tidak kurang dari 16 marga (genus), 38 jenis (species) dan 189 anak jenis (sub-species) rusa dengan sebaran aslinya yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari daerah yang beriklim dingin di dataran Eropa, hingga ke daerah sub-tropis dan tropis di dataran Asia.
Di Indonesia, jenis rusa yang dijumpai adalah rusa sambar (Cervus unicolor), rusa timor (Cervus timorensis), rusa bawean (Axis kuhlii), dan kijang muncak (Muntiacus muntjak). Jenis-jenis tersebut tersebar luas di pulau besar dan kecil di Indonesia dan merupakan jenis-jenis asli Indonesia. Selain itu, terdapat juga jenis rusa totol (Axis axis) yang berasal dari India dan sudah beradaptasi dengan baik di Indonesia.
Rusa sambar merupakan rusa tropis yang terbesar ukuran badannya di Asia. Ukuran tubuh rusa sambar jantan dapat mencapai berat 225 kg dan betina 135 kg. Ciri-ciri dari rusa sambar adalah memiliki warna bulu bervariasi antara coklat hingga coklat kehitaman atau coklat kemerah-merahan. Rusa sambar yang telah dewasa memiliki rambut yang kasar, bagi anakannya mempunyai bintik-bintik pucat yang samar. Rusa sambar biasanya bersifat soliter (menyendiri), tetapi yang berkelompok umumnya terdiri dari dua individu.
Sebaran rusa sambar di Indonesia, dapat dijumpai di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Sebagai satwa terrestrial, sebarannya berada pada hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan. Paling umum terdapat dalam hutan sekunder, tetapi tidak terkecuali juga terdapat dalam hutan primer atau bahkan perkebunan atau ladang masyarakat. Kebutuhan akan sumber pangan menjadi dasar keberadaan rusa ini. Saat ketersediaan makanan utama sudah dapat terpenuhi dalam hutan primer, maka tidak akan mungkin rusa sambar memasuki ladang masyarakat untuk mencari makan.
Rusa timor merupakan rusa tropis terbesar ke dua setelah rusa sambar dan mempunyai banyak anak jenis, antara lain C. t timorensis, C. t russa, C. t maccassarius, C. t floresiensis, C. t jonga, dan C. t moluccensis. Berat badan dari jenis rusa timor berkisar antara 40 - 120 kg, tergantung pada anak jenisnya. Warna bulunya bervariasi antara coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan. Tekstur dari rambut rusa timor lebih halus dibandingkan dengan rusa sambar. Perilaku sosialnya menyerupai rusa sambar yang lebih bersifat soliter (menyendiri).
Untuk sebarannya, rusa timor yang memiliki banyak anak jenis tersebar dari Indonesia bagian barat hingga ke Indonesia bagian timur. Penyebarannya antara lain pada Pulau Jawa, P. Sulawesi, P. Lombok, P. Flores, P. Banda, dan Kep. Maluku. Seperti halnya rusa sambar, rusa timor juga dapat dijumpai di hutan dataran rendah, yakni hutan primer dan hutan sekunder.
Rusa bawean termasuk kelompok rusa bertubuh kecil, dengan kisaran berat antara 25 - 40 kg. Warna bulunya bervariasi dari coklat kemerahan dan keemasan hingga coklat kehitaman dan bertekstur halus. Rusa ini memiliki habitat aslinya di Pulau Bawean dengan luas tidak lebih dari 200 km2 dan terletak 150 km dari Gresik. Secara umum, informasi yang dimiliki mengenai biologi rusa bawean masih sangat sedikit dan perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam.
Kijang muncak merupakan kelompok rusa yang bertubuh paling kecil di antara jenis-jenis rusa tropis yang ada. Tubuhnya yang kecil, sehingga seringkali terlupakan bahwa jenis ini termasuk ke dalam keluarga rusa. Bulunya terasa sangat halus dengan warna coklat kemerahan dengan permukaan bawah berwarna putih. Persebarannya berada pada Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan beberapa pulau yang berdekatan. Jenis ini umumnya ditemukan pada hutan sekunder.
Keempat jenis asli Indonesia tersebut, saat ini menjadi satwaliar yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Kebutuhan akan ranggah rusa dan dagingnya untuk dalam negeri ataupun luar negeri menjadikan satwa jenis ini dicari para pemburu. Hal ini bila tidak terkendalikan, bisa mengakibatkan populasi rusa di Indonesia semakin berkurang bahkan bisa punah di alam liarnya. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pengawetan agar kelestarian jenis rusa tetap terjaga. PP No 7 tahun 1999, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan pengawetan adalah sebagai berikut :
a. Menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan;
b. Menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa;
c. Memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada;
Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, keempat jenis rusa asli Indonesia termasuk ke dalam satwa yang dilindungi. Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Cultural Resource) Redlist, rusa sambar dan rusa timor dikategorikan ke dalam Vulnerable (VU; Rentan), yakni status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang mengalami resiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Rusa bawean termasuk ke dalam kategori Criticaly Endangered (CR; Kritis), yakni status konservasi yang diberikan kepada spesies yang menghadapi resiko kepunahan di waktu dekat. Kijang muncak yang memiliki ukuran tubuh paling kecil termasuk ke dalam kategori Least Concern (LC; Beresiko Rendah), yakni status konservasi yang diberikan pada spesies yang telah dievaluasi tetapi tidak termasuk ke dalam kategori manapun.
Ancaman utama terhadap jenis-jenis rusa ini adalah perburuan yang dilakukan manusia serta berkurangnya lahan dan padang penggembalaan yang menjadi kebutuhan rusa dalam mendapatkan sumber pangannya. Hal-hal ini dapat mengakibatkan kemampuan rusa untuk bertahan hidup di alam liar semakin berkurang dan mengakibatkan terjadinya kepunahan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pelestarian atas jenis-jenis rusa asli Indonesia. Salah satu bentuk pelestariannya adalah melalui pelestarian habitat yang menjadi sumber pangannya. Ketersediaan sumber pangan yang berlimpah akan menyebabkan pertumbuhan populasi rusa tetap lestari.
Kebutuhan rusa sebagai hewan ternak, dimana seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dalam perdagangan maka perlu dibangun suatu industri peternakan. Industri ini haruslah dibawah koordinasi departemen kehutanan, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk memonitor bahwa individunya sudah merupakan produk turunan dan dapat untuk dilakukan kegiatan komersial.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/

...lanjutkan baca...
Design @RayyaGiri

Entri Populer