gravatar

Ambon - Masohi - Bula

Bula.........................?
Dimana itu................?

Banyak yang masih tidak mengetahuinya. Memang kota satu ini kurang terkenal bila dibandingkan dengan kota-kota lain di wilayah Timur. Bula adalah pusat kota sementara dari provinsi Seram Bagian Timur hasil pemekaran wilayah baru di Maluku. Wilayah ini terletak pada sisi timur dari pulau Seram. Dahulu, wilayah ini termasuk Maluku Tengah.
Hingga tahun 2008 ini, Bula merupakan ibukota sementara. Nantinya, ibukota Seram Bagian Timur (SBT) akan diposisikan pada dataran Hunimua yang terletak pada sisi selatan dari kota Bula. Kondisi dataran Hunimua sekarang ini masih berupa hutan rimba di pesisir pantai.
Mengapa Anda harus ke sana?
Dalam tulisan pendek ini, saya akan mencoba mengajak anda berkenalan dengan Kota Bula. Apa yang saya paparkan tentunya dari sudut pandang anda sebagai calon Visitor. Apabila anda sudah membaca tulisan ini.



Chapter 1 – Air Travel



Untuk Anda yang pengen mengunjungi Kota Bula  Waktu yang dibutuhkan dari Surabaya – Ambon adalah sekitar 3 jam.

AMBON MANISE
Mendarat di Kota Ambon adalah sebuah kejutan bagi anda. Sebagai orang yang tidak pernah ke Ambon, bandaranya cukup bagus. Elemen ornament skylightnya menggunakan frame aluminium yang ditata berpola dengan manis. Struktur utama ruang tunggu bandara hampir sama dengan bandara Sukarno – Hatta Jakarta, yaitu menggunakan pipa besi besar. (jembatan penyambung untuk menurunkan penumpang dari pesawat langsung masuk ke dalam bangunan).

 
Bandara Pattimura, Ambon

Chapter 2 – Sea Travel to Masohi City


'Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam menuju pelabuhan Kepal Cepat Ambon - Masohi.
Perjalanan dengan menggunakan kapal cepat cukup nyaman. Waktu yang dibutuhkan dari Ambon – Masohi adalah sekitar 2 jam. Sebelum adanya kapal cepat ini, untuk menuju kota Masohi, masyarakat harus  menyeberang dari Pelabuhan Ambon dengan menggunakan kapal ferry menuju pelabuhan Waipirit di Pulau Seram (sekitar 2 jam), lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat ke Kota Masohi selama 5 jam. Total 7 jam. Bayangkan penghematan waktu yang dilakukan oleh kapal cepat ini. 7 jam menjadi 2 jam! Suatu hal yang  pasti, bagi mereka yang gampang mabuk sebaiknya minum antimo dulu. Ombaknya lumayan besar dan bisa menggoncang kapal. Cukup untuk membuat perut mual.

Chapter 3 – Ground Travel to Bula

Setelahi tiba di Pelabuhan Masohii. Pada saat yang sama, Anda telah ditunggu oleh driver untuk menuju Bula. Tidak ada angkutan umum ataupun sejenisnya menuju Bula. Sarana yang ada adalah kendaraan pribadi yang digunakan sebagai sarana angkutan umum ala travel. Harga yang dipatok mereka untuk perjalanan dari Masohi menuju Bula sekitar Rp.250.000,00 – 400.000,00. Cukup mahal, namun setelah melihat medannya nanti, maka harga tersebut cukup wajar. Jarak yang akan kami tempuh adalah sekitar 400km.
Chapter 3 Part 1 – Gunung SS
Kota Masohi berada pada sisi selatan dari Pulau Seram, sedangkan Kota Bula berada pada sisi utara dari  Pulau Seram. Maka kita harus menempuh perjalanan menuju utara dahulu baru kemudian membelok ke sisi timur. Masalahnya, bagian tengah dari pulau Seram adalah pegunungan. Sehingga kita harus naik turun gunung selama perjalanan ke arah utara. Gunung SS. Demikian masyarakat sekitar menyebutnya. Saya  sendiri tidak tahu nama resminya. Masyarakat setempat mengatakan demikian karena jalannya yang berliku-liku seperti huruf S.
Resiko cukup besar bisa saja menghadang selama perjalanan anda. Selain gelap karena perjalanan melintasi SS biasanya dilakukan malam hari, apalagi jika di guyur hujan terus menerus. Kepenatan anda akan terbayar setelah sampai di puncak. Terangnya sinar bulan menerangi seluruh dataran pulau seram. Tidak ada kata lain selain cantik! “Jangan lupa  mengabadikannya …..”

Chapter 3 Part 2 – Tanah Merah

Turun dari gunung, dilanjutkan dengan perjalanan ke arah timur. Selama kita berada di wilayah Maluku tengah jalannya sangat mulus. Aspalnya bagus dan mobil kami dapat melaju cukup kencang. Sekitar 60-90 Km/jam.
Menjelang pagi hari, sampailah kita di Tanah Merah (nama wilayah). Terdapat depot kecil di Tanah Merah. Satu-satunya depot. Depot Anugerah namanya. Depot ini sering dijadikan tempat peristirahatan karena berada pada posisi tengah dari perjalanan menuju Bula.
Biasanya supir-supir menunggu pagi hari untuk melanjutkan perjalanan di depot ini. Hal tersebut disebabkan ½ perjalanan berikutnya akan sangat-sangat melelahkan dan sebaiknya dilewati ketika terang (siang hari).
Anda akan makan pagi di depot tersebut. Penulis ingatkan agar makan sebanyak mungkin karena perjalanan berikutnya akan melelahkan dan tidak ada depot lagi.
Mungkin anda sudah bertanya-tanya ada apa sih di perjalanan berikutnya? Agar tidak penasaran saya lanjutkan ke cerita berikutnya.

Chapter 3 Part 2 – Dunia Lumpur

Lumpur.
Yup! Yang menjadi masalah adalah lumpur.
Mobil-mobil seringkali ‘kandas’ selama perjalanan dari Tanah Merah – Bula. Lumpur tersebut tidak hanya pada satu atau dua titik saja. Tapi tersebar merata dan menghambat perjalanan. Roda mobil bila terkena lumpur akan sulit berputar. Lumpur cenderung bersifat lengket dan menghambat ban untuk berputar. Kalaupun toh berputar, biasanya malah membuat mobil semakin terbenam lebih dalam. Butuh teknik dan kemampuan lebih untuk melewati medan ini. Melewati satu buah perangkap lumpur saja sudah setengah mati, apalagi lumpur sepanjang 200 km.
Nam To
Nam To adalah wilayah awal dari dunia lumpur. Wilayah ini dihuni oleh para transmigran dari Pulau Jawa. Jalan di wilayah ini merupakan jalan sirtu dan bukan jalan aspal. Kondisi tanah yang cenderung bergerak ditambah dengan posisi jalan yang kurang tinggi menyebabkan jalan sering rusak tergerus oleh arus air.


SELAMAT DATANG


 Mungkinkah Kota Bula Seperti ini......

Yang Pasti...
Selamat datang di kota Minyak Bula! kota ujung timur pulau Seram.


gravatar

Terimakasih postingnya, sebaliknya kami menunggu kunjungan saudara di Masohi news http://www.masohinews.com

Design @RayyaGiri

Entri Populer