gravatar

Minyak Bumi di Bula untuk Siapa?


 
KOMPAS/A PONCO ANGGORO Petugas dari Kalrez Petroleum Seram Limited menyemprotkan cairan kimia untuk melarutkan minyak yang tumpah dari tangki penampung minyak di Teluk Unjungbor, Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Selasa (14/6). Akibat kelalaian salah satu petugas Kalrez, minyak tumpah dari tangki pada Kamis (9/6). Pemerintah dan Kalrez mengklaim tidak ada kerusakan lingkungan akibat kejadian ini. A Ponco Anggoro Puluhan tahun lamanya minyak bumi diambil dari perut bumi Bula, Seram Bagian Timur, Maluku. Namun ratusan ribu barrel emas hitam yang telah dihasilkan itu tak mengubah kehidupan sebagian besar warga setempat.


Hingga kini, mereka terus bergulat dengan kemiskinan. Siang-malam, pompa angguk itu terus bergerak, menyedot minyak dari kedalaman 600 meter di bawah permukaan tanah. Tidak jauh dari pompa, sebuah flare stack setinggi sekitar 10 meter berdiri. Saat malam hari, api setinggi tiga meter kerap terlihat di ujung alat itu yang memang digunakan untuk membakar gas ikutan dari proses produksi minyak. Sudah dua tahun berjalan, kedua benda itu menjadi tetangga baru Ali Gantikafara (40) di Desa Fattolo, Kecamatan Bula, Seram Bagian Timur. Jaraknya hanya sekitar 50 meter dari rumah Ali. ”Semakin dekat dengan kegiatan pertambangan tidak berarti semakin baik rezeki kami, justru sebaliknya hidup kami semakin susah,” keluh bapak dari dua anak ini. Dimulai dari keharusan Ali dan keluarganya mengungsi selama dua minggu saat Kalrez Petroleum Seram Limited hendak mengebor minyak di dekat rumah mereka, dua tahun lalu. Dilanjutkan perasaan cemas yang menghantui mereka setiap hari, setelah pengeboran khawatir gas atau minyak itu tiba-tiba meledak. Kecemasan dan ketidaknyamanan hidup lebih menonjol daripada perubahan kesejahteraan bagi Ali dan mayoritas warga desa dari aktivitas penambangan di Fattolo. Hingga kini, Ali tidak memiliki pekerjaan tetap. Dia kadang menjadi kuli batu, nelayan, atau buruh bangunan. Penghasilannya tidak lebih dari Rp 500.000 per bulan. Ali pun masih tinggal di rumah sederhana, berdinding kayu papan, beratapkan rumbia (daun sagu), dan berlantai tanah, seperti kebanyakan rumah warga di Fattolo. Ketidaknyamanan hidup itu pula yang diungkapkan warga Desa Bula Air. ”Kami setiap saat selalu dihantui kecemasan. Peningkatan kesejahteraan seperti semula kami harapkan ternyata begitu sulit,” ujar Kepala Bagian Pemerintahan Desa Bula Lutfi Lapandewa. Desa itu berpenduduk 263 keluarga. Pindah tempat tinggal Sudah dua kali dalam 15 tahun terakhir, warga desa ini harus berpindah tempat tinggal akibat aktivitas pertambangan. ”Sampai sekarang warga masih resah. Setiap kali tercium bau gas atau terdengar bunyi seperti ledakan, warga berlarian menjauh dari kampung,” tutur Lutfi. Pompa angguk di Fattolo dan Bula Air itu hanya sebagian dari sedikitnya 90 pompa angguk yang tersebar di Kota Bula atau di lapangan blok minyak Bula seluas 35 kilometer persegi. Di sana, pompa-pompa itu berada berdampingan dengan permukiman warga. Lapangan minyak Blok Bula termasuk salah satu ladang minyak tua di Indonesia yang sudah dieksploitasi sejak awal abad ke-20 oleh Belanda. Kini pengelolaan penambangan minyak di ladang tersebut dilakukan oleh Kalrez Petroleum Seram Limited dengan produksi sekitar 400 barrel minyak per hari. 

Eksistensi Belanda yang sudah menemukan minyak di Bula sejak tahun 1896 dan sudah dieksploitasi sejak 1919 itulah, yang membuat Bula dikenal sebagai kota minyak di Maluku. Sebutan ini kian kuat saat tahun 2003 lalu, perusahaan minyak lain mengeksploitasi ladang minyak di sebelah blok Bula, di daerah perbukitan yang mengelilingi Bula, yaitu Blok Seram Non Bula. Operator penambang minyak di blok ini adalah perusahaan asal China, Citic Seram Energy Limited. Tidak seperti Kalrez, Citic mengeksploitasi minyak di kedalaman lebih dari 600 meter di bawah permukaan tanah, dan mampu memproduksi sedikitnya 2.000 barrel minyak per hari. Meski dalam setahun produksi minyak bisa 876.000 atau senilai Rp 707 miliar jika dihitung berdasarkan harga minyak dunia 95 dollar AS per barrel, tapi hanya sebagian kecil saja hasilnya yang menetes ke masyarakat Seram Bagian Timur.

Namun, Kepala Bagian Personalia Kalrez Petroleum Seram Limited, Abdullah Almahdali, tak sependapat dengan itu. Dikatakan, karyawan perusahaan itu sebagian besar berasal dari warga setempat. ”Perusahaan juga membantu menyekolahkan sejumlah anak untuk menempuh perguruan tinggi. Ditambah lagi bantuan listrik untuk sejumlah desa yang berada di dekat lokasi perusahaan,” katanya. Field Operation Superintendent Kalrez Eddy Mudjiono juga tak memungkiri kontribusi dari perusahaan belum optimal. Hal itu juga dipicu produksi minyak di Bula tidak lagi banyak. ”Untuk bisa bertahan beroperasi di Bula saja sudah bagus,” katanya. Sebaliknya pihak Citic Seram Energy Limited berdalih tak bisa memberikan keterangan tanpa seizin Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas). ”Kami hanya operator dari BP Migas, jadi keterangan harus seizin BP Migas,” ujar Bahrun, karyawan Citic. Wakil Bupati Seram Bagian Timur Siti Umuria Suruwaky mengatakan, sebagian besar keuangan daerah bersumber dari kucuran pemerintah pusat. Lihat saja APBD 2009, dana perimbangan berupa bagi hasil pajak/bukan pajak, termasuk di antaranya bagi hasil tambang, hanya Rp 60 miliar. Jumlah ini tidak cukup untuk menutup pengeluaran gaji pegawai Pemkab Seram Bagian Timur yang mencapai Rp 74 miliar per tahun. Masih tertinggal Kekurangan dana untuk menutup pengeluaran masih bergantung pada dana alokasi umum Rp 219 miliar dan dana alokasi khusus Rp 69 miliar, terutama karena pendapatan asli daerah hanya Rp 10 miliar. Terbatasnya dana ini yang membuat pembangunan di kota minyak itu berjalan lambat.

Sejak dimekarkan dari Kabupaten Maluku Tengah tahun 2003 lalu, kabupaten ini masih dicap sebagai daerah tertinggal dengan jumlah penduduk miskin 30 persen dari total penduduknya 99.065 orang. Bahkan, dari total jalan sepanjang 447 kilometer, hanya 100 kilometer sudah teraspal, sisanya masih berupa jalan tanah atau pasir dan batu. Jalan masuk ke Bula sebagai ibu kota Seram Bagian Timur, sepanjang sekitar 20 kilometer, masih berupa pasir dan batu. Sebagian warganya, terutama yang tinggal di Bula, masih sulit menikmati air bersih. Air dari sumur harus disaring dua kali sebelum digunakan. Beroperasinya perusahaan tambang memang bisa menyerap pengangguran di Seram Bagian Timur. Kedua perusahaan itu dapat mempekerjakan sekitar 200 orang. Namun jumlah tenaga kerja yang terserap ini pun tak sebanding dengan jumlah pengangguran yang mencapai sekitar 8.000 orang. Persoalan pelik lainnya yakni degradasi lingkungan. Tumpahnya minyak dari kolam penampungan milik Kalrez pertengahan Juni lalu hanya satu dari sekian kali peristiwa pencemaran terjadi. Tahun 2010, pipa minyak juga sempat bocor dan mencemari pesisir Teluk Bula. ”Dampak dari kerusakan lingkungan ini tidak akan terlihat sekarang, tetapi akan terlihat di masa yang akan datang,” ujar Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Seram Bagian Timur Ramly Sibualamo, yang mengaku sudah berulangkali menegur operator penambang minyak atas kelalaian mereka.

Design @RayyaGiri

Entri Populer