Senin, 20 Februari 2012

KLEPTOKRASI




Kleptokrasi (berasal dari bahasa Yunani: klepto+kratein yang berarti "diperintah oleh para maling") adalah istilah yang mengacu kepada sebuah bentuk administrasi publik yang menggunakan uang yang berasal dari publik untuk memperkaya diri sendiri (yang umum disebut sebagai penguasa dan antek-anteknya). administrasi publik ini umumnya tidak jauh dari praktik-praktik kronisme, nepotisme dan makelarisme.
Korupsi menjadi wabah endemik akut di Indonesia, hampir di setiap sudut negeri prilaku koruptif menjadi primadona pejabat dan selalu muncul di media massa akhir-akhir ini. Pemberitaan korupsi tidak pernah habis-habisnya di negara demokrasi ini. Berita duka pun muncul ketika seorang pemuda dengan semangat perjuangan menjadi pilu melihat dan merasakan kondisi bangsa ini, melihat bangsa ini berperingkat cukup baik sebagai negara terkorup ke-4 di dunia, sungguh prestasi yang cukup menjadi catatan tinta emas berkabut kelam dalam sejarah Indonesia. Pemuda suara rakyat “Sondang Hutagalung”, dengan keberaniannya membakar diri di depan istana, aktivis pembela rakyat ini berani mengorbankan nyawanya untuk memberikan perlawanan simbolis atas kebobrokan bangsa ini yaitu Korupsi. Dia (Sondang) pahlawan pembela suara rakyat, decap kagum sekaligus terharu jika itu dimaknakan kepada diri sendiri, harus berkaca bahwa itu adalah ketokan palu kepada istana untuk menyelesaikan persoalan korupsi di Indonesia.
Prilaku kleptokrasi para pejabat seperti birokrat, politisi dewan perwakilan, kepala daerah, dan malah menteri, selalu mencuri uang negara dan memperkaya diri. Prilaku yang menertawakan atas kehebatan diri dalam birokrasi untuk memanfaatkan jabatan, ataupun kekuasaan memperoleh uang-uang yang seharusnya diperuntukkan untuk membangun rakyat menjadi sejahtera malah di hisap untuk kekayaan pribadi. Negara hanya sebagai panitia kesejahteraan fungsinya melayani, melindungi dan memberi jaminan kesejahteraan rakyatnya untuk dapat hidup makmur, aman dan damai.
Ketika para kleptokrasi ini beraksi, deraian air mata rakyat kecil yang terjerat kemiskinan, kelaparan dan keterbelakangan itu menjadi selalu suram karena haknya telah dicerabut oleh prilaku koruptif para pejabat teras negara reformasi ini. Hakikatnya ketika dikaitkan dengan demokrasi, sebenarnya demokrasi hanya sebagai upaya untuk menjauhi neraka, artinya negara dengan demokrasi ini menjadi cara agar tidak terjadi potensi-potensi kekerasan layaknya terjadi hegemoni kekuasaan ke satu orang, tapi antara demokrasi dan kleptokrasi di Indonesia saling terkait layaknya dua sisi mata uang logam, saling berkaitan, tapi hanya di Indonesia, buktinya pasca Reformasi, pesta demokrasi di Indonesia dijadikan ajang untuk berkorupsi ria (KKN) oleh para pejabat.



Kleptokrasi
Kata kleptokrasi merupakan peningkatan dari istilah kleptomani yang berarti kebiasaan mencuri dari seseorang yang tidak dilakukan untuk pencaharian (bukan untuk memenuhi kebutuhan atau mata pencarian), kata kleptokrasi adalah korupsi tingkat tinggi (heavy corruption). Kleptokrasi sama halnya dengan penjahat kelas atas, di mana tindakannya melalui posisi struktural birokrasi, intelegensia dan akses kuat kepada kekuasaan memperbolehkannya untuk mencuri uang negara dalam rangka memperkaya pribadi dan kelompoknya.
Bila gambaran kleptokrasi dengan prilaku koruptifnya pejabat dikaitkan dengan aksi membakar diri oleh seorang mahasiswa Sondang “si pembawa suara rakyat”, itu menjadi indikasi jawaban dari suara rakyat akan ketidakpuasaan rakyat yang terepresentasi oleh yang dilakukan Sondang. Seperti ilustrasi dari para kleptokrasi menjalankan misinya yaitu mencuri uang rakyat, lari, ketangkap, sakit, dan terjeblos ke bui lalu bebas kembali oleh para antek-antek yang memang melangengkan KKN. Walaupun KPK sudah menjadi lembaga penyembuh penyakit klepto ini namun halnya ternyata kejahatan sistemik ini tidak dapat di hilangkan.
Kleptokrasi secara sosiologis memetakannya dengan beberapa indikasi yaitu pertama, prilaku masyarakat yang di lembaga dalam pranata keluarga extended family, indikasi ini dengan budaya kita yang selalu mendahulukan keluarga ketimbang orang lain misalnya salah satu keluarga yang sukses berada di jabatan tinggi struktural, maka akan ada tanggung jawab dari terhadap keluarga besarnya, sebagai contoh jika si A pejabat tinggi di lingkungan pemerintahan maka si A akan membawa anggota keluarganya untuk masuk dalam jabatan struktural yang sering disebut dengan Nepotisme; kedua, kebijakan upah yang tidak rasional, maksudnya setiap kebijakan selalu menguntungkan pihak-pihak yang lebih tinggi misalnya OB di kantor yang bekerja harus bangun pagi-pagi menyiapkan minuman, membersihkan ruangan, membukakan pintu kantor dan selalu pulang paling akhir, tapi di gaji hanya tidak kurang rasional dengan apa yang telah dilakukan oleh OB itu, berbeda dengan pegawai atau bos birokrat yang datang selalu terlambat, kerja tidak dengan keikhlasan selalu mendapat lebih dan pujian ketimbang dari OB itu; ketiga, adanya tradisi memberikan hadiah, semakin tinggi orang status sosialnya maka makin besar hadiah yang diterimanya seperti halnya kepatuhan hamba kepada raja sangat totalitas; keempat, kegiatan birokrasi pemerintahan yang diwujudkan dalam bentuk proyek seperti melakukan mark up (pengelembungan) dana dalam proyek. Keseluruhan indikasi ini menjadi rasional bila dibenturkan dengan fakta empiris bahwasanya kleptokrasi (korupsi) memang membudaya dan menjadi kejahatan tersistem.

Kleptokrasi : Kejahatan Korupsi
Kenyataan bahwa kleptokrasi menjadi tindakan kejahatan kelas atas yang sebenarnya dilakukan secara berjamaah, seperti jika dianalogikan dengan sebuah sistem birokrasi, misal salah satu dari subsistem mendapat potongan kue maka potongan kue itu juga harus terbagi ke seluruh sistem, jadi Korupsi cenderung dilakukan dengan ramai-ramai. Inilah sebuah gambaran kejahatan tersistem, halus, penuh ilusi, cakap dengan intelegensia tinggi maka tak pelak kadang kala klepto ini tidak tercium malah seperti bayangan yang tidak dapat di tangkap.
Tangisan rakyat Indonesia akan kepahitan menghadapi fakta kehidupan yang makin sulit ini, tidak menjadi korupsi hilang dan malah menjadi-jadi. Korupsi sama halnya dengan pembusukkan, dan kejahatan yang memiskinkan rakyat, maka tindakan membakar diri oleh Sondang menjadi bentuk aktualisasi dari kemirisannya melihat fakta kehidupan negara ini. Pemerintah dengan jubahnya selalu memberikan angin segar dengan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat melalui angka-angka pertumbuhan PDB semu dan kaku, tetapi faktanya rakyat masih miskin, rakyat masih mengemis, rakyat masih sulit mendapatkan pekerjaan, rakyat masih mengalami gizi buruk dan rakyat masih sulit mendapatkan jaminan kesehatan yang baik. Apakah itu yang menjadi gambaran bahwasanya Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi, tapi sekali lagi itu hanya angka, bukan faktanya.
Weber pernah berkata kleptokrasi merupakan kejahatan yang terlaksana karena adanya pemufakatan jahat antara birokrat-birokrat, dan pejabat politisi yang korup, tindakannya hanya ingin memperoleh keuntungan tanpa menimbang akan tugasnya sebagai pelayan publik. Perlawanan terhadap korupsi adalah bentuk kritis dari civil society yang termanifestasikan oleh seorang mahasiswa pejuang suara rakyat kecil Sondang. Simbol dengan membakar diri adalah kluminasinya dengan cara apalagi yang harus dilakukan agar pemerintah dapat tanggap membasmi kejahatan sistemik ini yaitu kleptokrasi korupsi.
Namun halnya kita sebagai warga negara harus tetap berjuang dan melanjutkan cita-cita dari seorang Sondang untuk tetap melawan korupsi, korupsi sama halnya dengan pemiskinan rakyat, jangan kekuasaan dijadikan alat untuk memperkaya diri tapi perkayakan rakyat yang dikuasai ini. Seperti halnya kata Gandhi poverty is the worst from of violence, kemiskinan adalah bentuk terburuk dari kekerasan, jadi prilaku koruptif sama dengan memiskinkan dan kekerasan dari sebuah kejahatan para elite.
Penjarahan uang triliunan rupiah selalu dilindungi demi kepentingan politik, maka tak pelak kadang kala para kleptokrasi ini dilindungi atau malah dihilangkan kasusnya agar publik tidak menuntut. Jika koruptif ini tersistem dan ada kepentingan politik di dalamnya maka kekuatan besar di belakang kejahatan ini tidak dapat terdeteksi atau terjangkau oleh para pemburu koruptor seperti KPK, karena itu telah menjadi polesan ampuh dari kekuatan besar di belakang dari kleptokrasi ini sehingga kadang kala aktor intelektualnya tidak dapat tertangkap dan hanya terjangkau pada bagian permukaannya saja sebab korupsi adalah bahaya laten.

Renungkan Kembali
Setelah melihat apa yang dilakukan Sondang dengan mempertaruhkan nyawanya melalui aksi bakar diri, layaknya kita kembali berkaca dari diri sendiri, apa yang telah kita lakukan untuk melawan prilaku koruptif ini, atau apakah kita menjadi aktor yang terus mereproduksi tindakan biadab itu yang kadang kala kita tidak sadar, namun itu di kembalikan lagi kepada diri kita sendiri.  Tepat tanggal 9 Desember 2011 sebagai hari anti korupsi sebenarnya harus menjadi langkah kita untuk merenung dan kembali melawan serta menghilangkan budaya koruptif, mulai dari hal kecil seperti mendisiplinkan diri dan jujur dengan waktu untuk tidak terlambat menuju kantor, kampus dan sekolah adalah langkah kecil untuk tidak korupsi waktu, dan dengan prilaku taat akan rambu-rambu serta menghormati sesama pengguna jalan dan mendahulukan pejalan kaki itu juga menjadi sebuah tindakan perlawanan mulai dari diri sendiri. Membunuh dan membasmi budaya korupsi itu harus diawali dari diri kita sendiri.
Tetapi sebagai warga negara yang cinta dengan negaranya, jangan pernah melupakan, menggabaikan dan terus melakukan perlawanan terhadap kleptokrasi dari para pejabat-pejabat elite dengan selalu menumbuhkan kesadaran kritis dari civil society untuk terus tanggap, mengkontrol dan mengawasi jalannya sebuah demokrasi tanpa kleptokrasi, karena sebuah kematangan dari demokrasi adalah kematangan civil society untuk terus kritis dan melawan semua bentuk tindakan yang hanya menguntungkan segelintir orang atau kelompok layaknya korupsi, sehingga menjadi mungkin Indonesia kedepannya bakal menjadi negara yang bebas dari kleptokrasi korupsi. Ayo lakukan perlawanan dan katakan tidak pada korupsi.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar