Rabu, 11 April 2012

BELAJAR BAHAGIA DENGAN MEMBAHAGIAKAN ORANG LAIN DI BULA


Untuk bisa bersekolah bagi anak Maluku tidak selalu mudah. Seperti di daerah lain, biaya sekolah sering kali menjadi kendala. Di luar itu masih juga terbentur semangat belajar dan jarak yang mesti di tempuh ke sekolah. Propinsi Maluku yang berpulau-pulau tidak memungkinkan adanya sekolah di setiap pulau, terutama tingkat SMA dan SMK.
Di Kota Bula, saya tinggal di sebuah kamar kost milik keluarga guru. Sang Bapak guru SMK mementara Ibu menjadi guru SMP. Ketika pertama datang di rumah ini, tidak ada yang istimewa dibandingkan keluarga lainnya.  Sebuah keluarga kecil dengan 3 orang anak yang masih sekolah di SD, SMP dan seorang yang sulung kuliah di akademi keperawatan.  Saya sempat berpikir keluarga ini seperti keluarga PNS lainnya yang berkecukupan dari gaji untuk menghidupi dan menyekolahkan putra-putrinya.


Namun pemikiran saya segera sirna setelah hari menjelang siang. Vira, putri bungsu pulang dari sekolah SD bersama ibunya. Dengan sopan dia menjabat tangan dan mencium tangan ayahnya dan saya yang baru datang hari ini.  Sesaat kemudian terdengar salam ” Assalamualaiukum” beberapa kali.  Dari Bapak saya ketahui bahwa putri kedua mereka datang. segera saya bertanya, ” apakah dengan teman-temannya? Kuq terdengar beberapa kali salam. Sepertinya ada beberapa orang.” Bapak langsung menjawab bahwa yang datang itu 4 orang. Salah satunya adalah putri kandung beliau. Yang tiga adalah putri-putri keluarga beliau di pulau-pulau lain yang tidak sanggup menyekolahkan lagi. Sehingga diangkat anak untuk sekolah hingga sekolah tuntas. Anak – anak sedemikian disebut anak piara di Maluku.
Beberapa saat kemudian 2 anak perempuan berseragam SMA datang. Di jelaskan bahwa 2 anak itu juga anak piara beliau. salah satunya bahkan datang dari Ternate, Maluku Utara yang masih saudara jauh keluarga ini. Wow berarti ada 5 anak angkat atau yang disebut anak piara.  Ternyata bukan 5 tetapi 7 anak. 1 anak laki-laki masih menginjak SD dan 1 anak laki-laki yang masih bayi. Itu artinya keluarga ini menghidupi dan menyekolahkan 10 anak. Kondisi yang sangat luar biasa. Dengan sumber gaji PNS plus warung kecil di depan rumah yang dijaga bergantian oleh anak-anak keluarga tersebut, keceriaan dan kebahagiaan hadir dalam keluarga ini. Apalagi ini Bula, yang jauh dari kota manapun. Segala kebutuhan mahal karena didatangkan via kapal laut. Jadi teringat betapa berharga 4 butir tomat di kota ini, sementara di daerah saya seringkali terbuang-buang saat panen raya. Disaat gaji PNS se-Indinesia sama, biaya hidup lebih mahal bahkan jauh lebih mahal dibandingkan di Jawa, tapi mampu menyekolahkan 3 putra kandung dan 6 anak angkat plus 1 bayi anak angkat. sekali lagi hati berdecak kagum. WOW. Sangat jauh dari yang terbayangkan tentang Maluku pasca kerusuhan dan pembantaian yang jauh sebelum ini sering terdengar dan terlihat melalui media massa.
Semenjak itu saya semakin akrab dengan keluarga bahagia ini. Bahkan pada malam hari setelah isya, saya dan pak Heri membuat acara belajar bersama khusus bahasa inggris dan komputer. Semoga bermanfaat apa yang kami berikan, tidak hanya di sekolah tapi segala hal meski saya hanya 6 bulan berada di Maluku. Yang pasti saya belajar banyak hal dalam keluarga ini yang memandang rejeki bukan hanya untuk dirinya dan keluarganya sendiri tapi juga untuk anak-anak lain yang membutuhkan. Dari rumah dalam gang kecil kota Bula, terpancar keceriaan dan kebahagiaan bagi semua orang. Sangat terlihat jika kebahagiaan mereka saat melihat orang lain bahagia.
http://gurusmk.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar