Rabu, 11 April 2012

BULA, SERAM BAGIAN TIMUR

masjid agung bula Seram Bagian Timur sebagai kabupaten yang baru dimekarkan tentu memiliki banyak keterbatasan. Kota Bula yang dibayangkan sebagai sebuah kota kabupaten tak lebih besar dan ramai dari sebuah kota kecamatan kecil di Jawa. Gedung-gedung perkantoran dalam tahap pembangunan. Pasar Bula kami nilai setara pasar desa di Jawa. Wah kug bandingannya Jawa terus ya. Karena cuma itu yang terbayangkan sebagai daerah kelahiran. Namun kondisi itu tidak munyurutkan keinginan berpetualang. Belajar hidup sederhana. Meskipun banyak teman-teman yang mengeluh dengan membandingkan ketersediaan di Jawa. Gambar yang disebelah ini adalah masjid agung kota Bula, tempat saya dan kawan-kawan sholat dhuhur dan beristirahat sejenak saat pulang dari mengajar di SMK Negeri 1 Bula.


Selain itu, akses transportasi ke ibukota propinsi Maluku, kota Ambon, yang mengandalkan kapal laut  dengan ketergantungan pada cuaca dan bus yang hanya 1 kali dalam sehari. Waktu itu bus pun tidak selalu jalan setiap hari. Saat itu tahun 2009, ada sebuah sungai yang disebut kali boby yang belum selesai pengerjaan jembatannya. Sehingga ketika turun hujan, sungai meluap dan transportasi terputus. Bukan hanya transportasi penumpang yang terputus saat kali boby meluap, sayur dan bahan makanan yang mengandalkan daerah transmigrasipun juga terhenti.Untuk satu kali perjalanan dari kota Bula ke Ambon dengan bus, membutuhkan waktu tidak kurang dari 22 jam. Biasanya bus berangkat dari Bula jam 13.00 WIT dan sampai di Ambon jam 11.00 WIT ke esokan harinya. Sebenarnya perjalanan bisa lebih singkat sekitar 4 jam, sebab sejak pukul 04.00 WIT, bus sudah berada di pelabuhan waipirit untuk antri. Sementara kapal feri baru beroperasi jam 07.00 WIT. Harga tiket bus saat itu adalah Rp. 300.000,- termasuk 1 kali makan.
melintas sungai boby
Suatu waktu saya pernah ditugaskan untuk melakukan survey sebelum melaksanakan praktikum bagi siswa SMK Negeri 1 Bula. Dengan 2 motor pinjaman, bersama kawan dari Malang sesama guru kontrak, Bertuz, dan dua guru asli Bula yaitu Pak Taha dan Pak Saleh, kami berangkat menuju Banggoi dan Pasahari. Saat berangkat, sungai Boby sedang bersahabat. Meskipun harus mengupah orang untuk menggotong motor, tapi kami bersyukur masih bisa melewati sungai Boby.  Setiap motor Rp 20.000,-. Namun Sungguh menyenangkan. Tak ada yang seperti ini di daerah yang lebih maju seperti kota Malang dimana saya tinggal sebelumnya.


Kondisi kali Boby pada saat melintas pagi hari sangat berbeda dengan saat melintas pulang malam hari. Pada saat itu menginjak pukul 20.00 WIT. Kali Boby banjir. Tidak memungkinkan melintas. Terpaksa bermalam dengan ditemani rokok dan sisa bekal di pinggir sungai untuk menunggu ketinggian air menurun. Akhirnya bisa menyeberang keesokan harinya pukul 09.00 WIT. Alhamdulilah. Menurut orang lain mungkin sesuatu yang menyengsarakan. Menyedihkan ( Terutama keluarga besar di Malang yang selalu menangis saat telpun. Apalagi kalo tau kabar gaji telat he he he he. Padahal enjoy lho). Tapi ini lho out bond yang sebenarnya. Orang lain out bond harus bayar mahal padahal cuma beberapa jam, lha ini out bond berbulan-bulan GRATIS  dan malah di bayar. Enak tho. Ntar disambung lagi ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar