gravatar

Inailah Kekayaan Alam Kecamatan Bula, Seram Timur, Wakate, Tutuk Tolu dan Gorom

 ADA yang agak janggal dari kegiatan lapangan minyak di Indonesia. Mungkin tak banyak ditemukan di dunia ini, yaitu sumur minyak yang bertambah secara alami. Lapangan minyak Bula, yang ditemukan sekitar 1896, tercatat pernah menghasilkan lebih dari 16 juta barrel minyak sejak 1919. Yang menakjubkan adalah volume cadangannya cuma sekitar 5 juta barrel. Minyak keluar dari lapisan pasir yang dangkal sekitar masa pleistosin yang terus ’diperbarui’ dari (lapisan) bebatuan yang lebih dalam, yang diperkirakan berusia jutaan tahun. Itulah kutipan dari artikel Richard B Wells dalam National Drillers Buyers Guide (Maret 1997).
WALAUPUN tak lengkap dan panjang lebar, nama Bula kerap muncul dalam berbagai informasi mengenai sejarah dan perkembangan Seram di Maluku, serta situs-situs tentang perminyakan di internet. Minimnya informasi juga terlihat pada data tentang kabupaten yang menaungi kecamatan itu, Seram Bagian Timur (SBT). Bula tak berkecil hati, karena untuk sementara, ia adalah "segala-galanya" di kabupaten ini.
Melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2003, daerah ini resmi dideklarasikan sebagai kabupaten pemekaran Maluku Tengah.

SBT beruntung dengan keadaan seperti itu. Minyak, perkebunan, transmigrasi, dan kekayaan alam flora-fauna untuk sementara bisa menjadi andalan. Sampai sekarang apa yang dikemukakan Wells masih berlangsung walaupun produksinya tidak sebesar yang disebutkan tadi. Emas hitam ini kira-kira ditemukan awal abad ke-19. Dua perusahaan yang kini mengolahnya adalah Kalrez Petroleum (KP) dan Kufpec (Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company). KP mengakuisisi lapangan minyak Blok Bula PSC dari Santos Ltd pada April 1999. Lokasi ini merupakan lapangan minyak tua, dan diperkirakan kandungan yang tersisa masih cukup besar. Bersebelahan dengan blok itu adalah Seram Non Bula PSC yang dioperasikan Kufpec sejak 2003.
Luas blok itu sekitar 35 kilometer persegi, sebagian ada di sepanjang pantai dan sisanya di daerah pasang surut. Produksi kotor sebetulnya 4.400 barrel, tetapi karena kadar air tinggi, 80-90 persen, hasilnya 514 barrel per hari. Hal yang sama terjadi pada produksi di Non Bula, dari sekitar 8.000 barrel menjadi 4.200 barrel per hari.
Bagaimana dengan perkebunan? Kopi, kakao, pala, cengkeh, dan kelapa merupakan komoditas penting. Dua tahun terakhir produksi cengkeh 2.669 ton per hektar (2002) dan 2.746 ton per hektar (2003). Daerah utama penghasil tanaman harum ini adalah Kecamatan Seram Timur dan Pulau Gorom. Selama dua periode itu kedua daerah tersebut menjadi penghasil tertinggi se-Maluku Tengah. Walaupun belum memasuki masa panen, harga cengkeh pada Mei 2004 sekitar Rp 15.000 per kilogram, dan pasar terbesarnya adalah Ambon dan Surabaya. Di Masohi harganya bisa Rp 22.500 per kilogram.

Selain cengkeh, pala banyak dihasilkan di Pulau Gorom. Pala diupayakan turun-temurun oleh masyarakat. Dengan produksi 440 ton per hektar (2002) dan 351 ton per hektar (2003), harga biji pala Rp 32.500-Rp 40.000 per kilogram, sedangkan bunga (fuli) Rp 40.000 per kilogram. Jenis yang ditanam kebanyakan (pala) papua. Jenis ini bersaing dengan pala banda yang banyak terdapat di Leihitu dan Saparua (Maluku Tengah). Seperti juga cengkeh, bahan bumbu dapur ini banyak diperdagangkan ke Ambon dan Surabaya. Pala untuk kebutuhan lokal sekitar lima persen, dengan harga (biji) Rp 25.0000 hingga Rp 30.000 per kilogram.
Kondisi harga pala amat bergantung pada kelasnya, yaitu biji mulus, tidak keriput kelas 1, sedikit pecah kelas 2, serta keriput dan banyak bolong kelas 3. Hal ini terkait dengan pengeringan. Jika pala terlalu cepat disimpan di gudang, ada risiko terkena hama kumbang. Begitu juga kalau pengeringan kurang sempurna, bisa menyebabkan munculnya jamur. Pengeringan bisa dilakukan dengan pengasapan maupun dijemur kira-kira lima hari. Sementara kopi cukup banyak terdapat di Seram Timur, kakao di Pulau Gorom, kelapa di Bula, Pulau Gorom,
Walaupun lingkupnya sebatas di Bula, tanaman pangan pun diupayakan. Dengan luas lahan produktif 71.795 hektar, tahun 2003 Bula ditargetkan menanam padi (100 hektar), jagung (20 hektar), dan kedelai (100 hektar). Dalam tiga tahun terakhir produksi padi ladang per hektar 34 ton (2001), 54 ton (2002), dan 162 ton (2003). Padi sawah, dengan luas panen 70 hektar, tahun 2003 diperoleh 161 ton padi jenis IR-64.
 Sentra penanaman padi ladang sebagian besar di Desa Waimatakabu dengan harga Rp 2.700 per kilogram. .
 

POTENSI BAHAN GALIAN PERTAMBANGAN GOLONGAN A, B DAN C DI KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR


Secara geografis Kabupaten Seram Timur terletak antara 129º48’10” – 131 º 53’49” Bujur Timur dan diantara 2 º51’25” – 4 º48’56” Lintang Selatan. Kabupaten seram bagian timur dibatasi dengan Laut Seram di sebelah utara Laut banda disebelah selatan dengan laut arafura di sebelah timur  dan Kabupaten Maluku tengah sebelah Barat.
Kabupaten Seram Bagian Timur dikenal memiliki potensi minyak dan gas bumi. Walaupun potensi migas tidak besar namun telah diolah sejak masa penjajahan hingga sekarang. Kekayaan alam menjadi kekuatan utama daerah baru ini, potensi alam yang belum tereksplorasi    secara maksimal. Pertambangan, perkebunan dan perikanan laut menjadi andalan awal. Lapangan minyak Bula saat ini dikelola oleh Karlez Petroleum (KP) dengan produksi kotor 4400 barel/hari, produksi bersih 514 barel/hari, minyak basah 548 barel/hari. dan Citic Ltd dengan produksi kotor 8000 barel/hari, produksi bersih 4200 barel/hari. Lapangan minyak Bula sendiri merupakan ladang minyak tua yang ditemukan pertama kali tahun 1896. .dan ditahun 2006,berdasarkan hasil survey PT ISCO Singapore telah ditemukan tambang Zink yang berada di    Kecamatan Geser,Gorom dan Manawoka.
Secara Morfologi daerah ini dipengaruhi oleh sebaran batuan serta keadaan strukturnya. Setiap satuan morfologi mencerminkan batuan tertentu yang dibagi atas pegunungan, perbukitan, dan daratan
Berikut ini profil Indikasi dan Potensi Bahan Galian Mineral/Pertambangan Golongan A,B, dan C  di cluster seram Timur :
1. Emas
Terletak di Desa Selangor (Kecamatan Geser) dan desa  Banggoi Kecamatan Bula), dengan indikasi berupa butiran emas dalam konsetrat dulang hasil analisis   mineralogy butir
2. Nikel, Krom, Besi , Mangan
  • Terletak di Desa Hatumeten (kec. Werinama) indikasi berupa hasil analisis tanah laterit dengan   kandungan Nikel (Ni) = 0,95 %, kobalt (Co) = 361 gr/ton, krom (Cr)= 0,19 %, besi (Fe)= 12,84 %, magnesium (Mg)=8,83 % dan  mangan (Mn)=0,38 %
  • Pulau Watubela (Kec. Gorong)  indikasi berupa bukit endapan    laterit diduga mengandung nikel, krom, besi, mangan dan kobalt.
3. Zirkon
Hampir diseluruh wilayah Seram Bagian Timur dijumpai hamparan alluvial yang umumnya              mengandung butiran zircon (ZrSiO4)
4. Tembaga
  • Desa Selangor (Kec. Geser) indikasi dengan adanya mineral utama tembaga berupa kalkopirit dalam contoh konsentrat dulang
  • Desa Wae Dadan (Kecamatan Werinama) indikasi berupa hasil    analisis  batuan  dengan        kandungan Tembaga 102 ppm
5. Wolfram
Indikasi endapan wolfram ditunjukan dalam contoh konsentrat dulang di Desa Wae Dulak dan Desa Banggoi kec. Bula, Pulau Kesui, Desa Tamher Barat (Kec Gorom) desa Selangor dan Desa Gah (Kecamatan Geser)
6. Batubara
Desa Banggoi (Kec. Bula) indikasi berupa lensa-lensa tipis batubara dengan nilai kalori = 7131,  kandungan belerang 1,55 % total  12,75 %
7. Batugamping /Marmer
Dari data, cadangan batugamping dikabupaten Seram Bagian Timur yang terpetakan diperkirakan mencapai 8.096.641.665 m3. Kuat tekan = 825-860 kg /cm2, kekekalan bentuk tidak cacat, penyerapan air  = 0,12-0,18 % dan BJ = 2,59-2,60 (FLTC).

Sumber : http://info.kapetseram.com/?p=270
Krishna P Panolih/Litbang Kompas

Design @RayyaGiri

Entri Populer