gravatar

Kata Gigi Band tentang Bula

sepenggal kisah tentang bula

25 May 2010 11:03am
MUNGKIN tidak banyak di antara kita yang tahu dimana letak kota Bula. Jika kita membuka peta atau berselancar dengan Google Maps, kita akan menekuan sebuah titik di ujung timur laut Pulau Seram. Ya, Bula adalah ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur yang masuk dalam Provinsi Maluku.

Ini daerah baru hasil pemekaran Kabupaten Maluku Tengah pada tahun 2004. Setelah pemerintahan transisi selama setahun, pada 2005 Seram Bagian Timur resmi menjadi kabupaten mandiri dengan ibukota Bula. Konon Bula hanyalah ibukota sementara karena pusat pemerintahan akan dipindah ke dataran Hunimua yang terletak pada sisi selatan dari kota Bula.

Karena itu ketika bagian humas kabupaten datang ke kantor manajemen untuk meminta Gigi tampil pada acara penutupan MTQ di Bula pada 17 Mei, kami spontan bertanya, “Bula itu dimana sih?” Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, barulah kami tahu di mana tepatnya kota Bula itu.

Sebelum kontrak ditandatangani, kami meminta penjelasan terperinci tentang jalannya acara (rundown), alat transportasi dan akomodasi yang bakal kami terima. Sebagai daerah antah-berantah yang belum kami kenal sebelumnya, kami harus memasatikan semuanya oke. Kami tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Benar saja, dari penjelasan yang kami terima, tahulah kami kalau perjalanan kali ini adalah perjalanan cukup berat.

Kami terbang dari Jakarta dengan pesawat Batavia Air pukul 01.00 WIB dini hari tanggal 16 Mei langsung ke Ambon. Setelah 3 jam terbang nonstop kami mendarat di bandara Patimura pukul 06.00 WIT. Ambon dua jam lebih cepat dibanding Jakarta. Matahari sudah muncul dan cuaca cukup cerah meskipun ada cukup banyak awan.

“Saya nggak bisa tidur, karena dapat tempat duduk di pintu darurat. Kursi nggak bisa di rebahkan, jadi duduk tegak terus dari Jakarta ke Ambon,” kata Hendy.

Seperti Kopaja

Perjalanan masih jauh karena kami mesti ganti pesawat menuju Bula. Kami sudah diberitahu bahwa pesawat ke Bula adalah pesawat kecil (saya ingat pilot mengatakan jenisnya Short.. terus menyebut angka).

Dalam benak kami terbayanglah sebuah pesawat ATR dengan 2 baling-baling berkapasitas 50-60 orang seperti yang pernah kami naiki dari Balikpapan ke Bontang atau dari Semarang ke Surabaya.

Perkiraan kami keliru, pesawat yang kami tumpangi lebih kecil, hanya bisa mengangkut 25 orang saja. Karena gigi membawa banyak peralatan ada kursi pesawat yang mesti dilepas untuk tempat meletakan kargo Gigi. Jangan membayangkan ada bagasi di perut pesawat, semua bawaan penumpang masuk ke dalam kabin, kemudian diikat tengan tali ke lantai dan dinding pesawat. Cara ini mirip yang kita lihat dalam pesawat Hercules atau pesawat khusus kargo yang lain.

Karena kecilnya pesawat, berat orang dan barang yang akan diangkut menjadi sangat penting. Jadi bukan hanya kargo yang ditimbang, penumpangpun wajib ditimbang. Maka kami yang totalnya 14 orang ditambah seorang ajudan bupati, naik ke atas timbangan satu-persatu. Di dalam pesawat ada beberapa orang lain yang kelak kami ketahui anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Timur.

Kalau tidak salah daya angkut pesawat ini 2 ton atau 2.000 kg. Karena peralatan Gigi beratnya 600 kg, maka total berat penumpang bersama tas jinjingnya tidak boleh lebih dari 1.400 kg. Setelah semuanya beres, pukul 09.00 WIT kami pun terbang ke Bula. Waktu tempuh Ambon-Bula sekitar 50 menit.

Karena pesawat tidak bisa terbang tinggi di atas awan seperti pesawat jet komersial yang biasa kami naiki, pilot dituntut sigap melakukan manuver menghindari awan. Dengung mesin pesawat juga sangat keras, saya jadi teringat Kopaja dan Metro Mini di Jakarta. Dalam banyak hal pesawat ini mirip sekali dengan Kopaja dan Metro Mini cuma minus ekor, sayap, dan baling-baling.

Tapi kami tidak sempat lagi mencemaskan situasi itu karena masih sangat mengantuk, setelah semalaman tidak bisa tidur. Singkat cerita kamipun tiba di Bula sekitar pukul 10.00. Kejutan belum berakhir, karena yang disebut landasan pesawat itu bukanlah jalanan mulus beraspal melainkan jalan tanah yang diperkeras dengan sirtu (pasir dan batu).

Yang namanya terminal penumpang tidak lebih dari sebuah hangar, dengan kontor sederhana di satu sisi dan kamar mandi di sisi lain.

Penghasil Minyak
Begitulah tahap pertama perjalanan yang melelahkan itu berakhir. Kami dijemput banyak sekali mobil, ini sungguh mengherankan karena kami cuma perlu tiga mobil penumpang untuk pemain dan kru serta satu mobil boks/pikup untuk peralatan.

Siang itu kami dijadwalkan untuk makan siang bersama bupati, tapi permintaan ini terpaksa kami jadwal ulang menjadi makan malam karena kami terlalu lelah dan ingin segera beristirahat. Seluruh rombongan ditempatkan di wisma milik perusahaan minyak. Perjalanan dari bandara ke kota hanya 10 menit. Wisma itu terletak di atas bukit di sisi selatan kota menghadap ke pantai dan pusat kota.

Sedikit cerita tentang Bula dan kabupaten Seram bagian Timur. Kabupaten ini luasnya 3.952,08 km2 dan terbagi menjadi 4 Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Laut Seram di sebelah utara dan timur, Laut Banda di sebelah selatan, Kabupaten Maluku Tengah di sebelah barat. Jumlah penduduknya 130 ribu orang.

Daerah ini dikenal sebagai daerah perkebunan dengan komoditi andalan berupa kopi, kakao, pala, cengkeh, dan kelapa. Sementara padi dihasilkan dari lokasi transmigrasi di daerah Benggoi, Airmatakasu, dan Tanjungsilat.

Selain hasil perkebunan, Bula juga dikenal sebagai pengasil minyak bumi. Minyak dipompa dari sumur-sumur tua yang masih produktif. Setiap hari dari sumur-sumur minyak yang ditemukan awal abad 19 itu dihasilkan 3.000 barel, suatu jumlah yang sebenarnya tidak terlalu besar, tapi masih cukup ekonomis untuk dieksplorasi. Kontaktor minyak yang beroperasi di Bula adalah Karlez dan Citic dari Australia dan Cina.

Nah rombongan Gigi ditempatkan di dua wisma milik Karlez. Walaupun sederhana dan tampak jelas kurang dirawat, sarana wisma ini bersih cukup lengkap. Kami bisa menikmati TV kabel dan mandi air hangat 24 jam sehari. Seluruh ruangan juga ber-AC.

Untuk makan kami juga tidak perlu terlalu khawatir karena panitia menyapkan buffe [dipersiapakan bagian dapur kabupaten] di wisma. Menu andalan, daging dan dendeng rusa. Di daerah populasi rusa dan babi hutan masih sangat banyak.

Sesekali saat kami turun pada sore atau malam hari ke kota (ke kabupaten), sekelompok babi hutan tampak beriringan di sisi jalan. Babi hutan ini juga sering datang di bagian belakang pekerangan wisma.

Tapi jangan coba-coba berburu disini. Di sepanjang jalan menuju kota terpampang tulisan di larang berburu, mungkin untuk mengindari terjadinya kebakaran akibat tembakan nyasar mengenai pipa minyak yang memang banyak terdapat di sana.

Penutupan MTQ
Pada hari H, 17 Mei, kami dijempat pukul 10.00 malam. Sebagai satu-satunya hiburan Gigi diharapkan menjadi penutup acara Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) XXIII tingkat Provinsi Maluku.

Sempat ada kekhawatir akan sedikitnya jumlah penonton, mengingat Bula cuma dihuni oleh 18 ribu jiwa. Ini seperti jumlah penduduk sebuah kecamatan kecil di Jakarta. Tapi panitia meyakinkan penonton akan cukup banyak sebab acara ini lingkupnya provinsi. Selain itu penduduk dari pelosok kecamatan akan berdatangan ke Bula. Sebanyak 400 kafilah dari kabupaten/kota se-Maluku dipastikan hadir. Bersama tim pendukungnya, diperkirakan partisipan MTQ berjumlah 2.000 orang.

Benar juga, waktu Gigi tampil penonton memadati Lapangan Pancasila. Padahal waktu sudah menunukan pukul 01.00 dinihari tanggal 18. “Kita seperti main di kafe, yang mulainya tengah malam,” kata Budjana.

Karena tampil di acara penutupan MTQ, Gigi menyusun repertoire yang terdiri dari lagu-lagu religi. Pada bagian akhir Gigi membawakan lagu 11 Januari, karena banyaknya permintaan penonton.

Kami baru selesai pukul 02.00 dan langsung menujuk ke wisma, tapi tidak bisa langsung tidur, sebab pukul 05.00 kami sudah di tunggu di bandara untuk persiapan terbang ke Ambon.

Waktu jadi suatu yang sangat penting karena pesawat yang akan membawa kami ke Bali dijadwalkan terbang pukul 08.45 dari Ambon.

Untunglah cuaca Bula pagi itu sangat baik, tidak berkabut dengan sedikit awan, sehingga tidak ada penundaan terbang. Jadi begitulah, semuanya berjalan lancar, kami meninggalkan Bula menuju ke Denpasar untuk tampil di Hard Rock Café esok harinya, dengan 3 kali transit. Bula-Ambon-Makassar-Surabaya-Denpasar.

“Bula bukan kota terkecil yang pernah kami singahi, kami pernah tampil di Sukadana yang lebih kecil dan lebih minim fasilitas dibanding Bula, tapi kalau dihitung dari jumlah transitnya ini rekor. Gila masa kita boarding sampai 3 kali,” kata Armand.

Begitulah Gigi menjalani jadwal manggung yang sangat padat, yang terkadang mesti melalui perjalanan yang cukup berat. Tampil di Bula hanyalah sepenggal kisah yang rasanya cukup berharga untuk kami dibagikan. (son/POSe)

Design @RayyaGiri

Entri Populer