Rabu, 12 September 2012

Aksi Solidaritas Pemuda Bula, 11 September 2012



Tulisan Singkat ini mencoba menganalisis sebuah issue konflik yang terjadi antar kelompok masyarakat yang hidup di Kabupaten Kab, Seram Bagian Timur Provinsi Maluku, yaitu isu konflik antara Pemuda Kec. Bula dengan Masyarakat Pendatang yaitu Pemuda asal Kec. werinama yang menguasai tatanan pemerintahan Di Kota Bula atau tepatnya Ibu Kota Kabupaten Seram Bagian Timur.

Konflik horizontal dapat terjadi manakala ada benturan sosial yang disebabkan oleh struktur sosial yang ada didalam masyarakat itu sendiri. Penyebabnya bisa saja dari latarbelakang yang berkaitan dengan etnisitas, agama, ekonomi, Politik dan adanya penegakan hukum yang lemah. Kebanyakan konflik horizontal akan menghasilkan kekerasan yang terjadi dalam masyarakat.

Indonesia memang dilandas syndrome konflik horizontal yang ditandai dengan adanya kekerasan yang tumbuh subur tanpa mampu dikendalikan oleh pemerintah. Kerusuhan Ambon, Konflik Posso, Pengganyangan Etnis Tionghoa di Makkassar, dan banyak lagi. kekerasan merupakan potret yang menunjukkan kealpaan Negara dalam melindungi hak-hak dasar warganegaranya. Kekerasan biasanya digunakan untuk menggambarkan suatu perilaku, baik terbuka, tertutup, menyerang maupun bertahan yang disertai penggunaan kekuatan terhadap orang lain. Mengapa budaya kekerasan yang tumbuh akhir-akhir ini dapat terjadi ditengah proses hegemoni penegakan hokum. Bukankah kewajiban pemerintahan yang dibentuk untuk melindungi hak-hak warganya termasuk hak untuk mendapatkan kehidupan yang Aman dan tentram. Satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa instabilitas ekonomi, sosial, politik dan keamanan merupakan potensi yang mampu menimbulkan konflik horizontal maupun Vertikal dan kekerasan yang terjadi.

Dalam kaitannya dengan aksi solidaritas masa sekitar Kurang Lebih 200 orang masa pemuda bula tadi malam (11 September 2012) di kecamtan bula, ibu kota kab. Seram Bagian Timur, buntut dari pemukulan Sekelompok Pemuda werinama kepada tiga orang pemuda Kec. Bula mengakibatkan 2 (dua) dari korban tersebut masi dalam perawatan serius di RSUD Kab. Seram Bagian Timur.

penulis melihat bahwa issue konflik antara pemuda Kec. Werinama vs Kec. Bula ini terjadi sebagai akumulasi dari stereotype dan rasa sakit Masyarakat Bula karena peristiwa yang sama kerap terjadi tercatat sudah sekitar 5 (Lima) Kasus Kekerasan yang mungkin juga awalnya murni kasus perkelahian biasa antar pemuda namun jika dibiarkan kasus seperti ini berlarut-larut tanpa adanya usaha prefentif dari pihak-pihak yang berkompotent terutama pemerintah maka situasi Ini bisa saja menimbulkan adanya issue egosentris kedaerahan ke masyarakat tentang konflik horizontal anatara pemuda.

Rentetan Kekerasan yang terjadi antara pemuda Kec. Werinama vs Kec. Bula sebagai dampak issue konflik horizontal jika ditelusuri maka akan terlihat bahwa konflik tersebut bukanlah semata-mata dilandasi oleh faktor Rasa cinta pada daerahnya pada tanah tumpah darahnya namun penulis beranggapan Ada unsur Sosial, ekonomi, politik dan penegakan hukum yang tidak serius dilakukan oleh pemerintah. Kondisi ekonomi dalam banyak literasi dijadikan sebagai referensi utama manakala studi tentang social masyarakat dan studi tentang kekuasaan/pemerintahan. Bahwa kondisi ekonomi yang tidak berkeadilan akan mempermudah terjadinya kekerasan ditengah masyarakat. Ini dibuktikan dengan Fakta yang disajikan oleh Pemerintahan Rezim Abdullah Vanath yang berasal dari werinama dengan memberikan porsi posisi atau jabatan structural fungsional birokrasi yang besar kepada bawahanya yang berasal dari Kec. Werinama pula dari pada kecamatan lain di kab. Seram Bagian Timur, Di tambah dengan Sikap-sikap yang dibawa oleh Pendatang diterapkan dalam kehidupan bermasyarakatnya sehari-hari tanpa melihat akan keberadaan entitas lain dalam lingkungan tersebut. Hal itu berakibat pada munculnya Bom Waktu dalam masyarakat jikalau kelompok-kelompok tertentu apalagi pejabat-pejabat public telah mengeksklufikan dirinya dan kelompok-kelompoknya tanpa mau membaur dengan masyarakt lain. terlebih bagi “Orang Werinama” yang merupakan “Penguasa” Kebencian dan dendam mulai muncul tatkala “Orang Werinama” mulai “sok berkuasa” dan berusaha menduduki akses-akses vital, seperti di Birokrasi Pemerintahan, tanah perkebunan dan ladang dan dominasi Kontaraktor atau Pengusaha. Tanpa berpikir sektoral penulis beranggapan Situasi inilah yang menimbulkan kecemburuan social di tengah – tengah masyarakat. Situasi seperti ini memnungkinkan masyarakat kec. Bula dan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Seram Bagian Timur merasa terusik dengan rasa ketidaknyamanan, ketidakpuasan kerena merasa tidak diperlakukan adil terutama masyarakat bula karena ketidakadilan social ini terjadi di tanah kelahirannya sendiri situasi seperti inilah yang bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan berkehidupan yang aman dan sejahtera. Belum lagi kesempatan aktivitas ekonomi yang terus saja tidak mendapatkan perlindungan dari pemerintah. Masalah bersama merupakan faktor yang paling penting dan bisa melibatkan perasaan akan bahaya.

Berikut ini penulis mencoba mengutip kalimat dari Oleh Ted Robert Gurrdi dan Le Bon, Ted Robert Gurrdi katakana bahwa individu yang memberontak sebelumnya harus memiliki latarbelakang situasi, seperti rasa ketidakadilan, kemarahan moral dan kemudian memberikan respon terhadap sumber penyebab kemarahan tersebut. sedangkan Menurut Le Bon, kekerasan kolektif ini berkaitan dengan irasionalitas, emosionalitas dan peniruan individu yang lepas dari pembatasan social suatu organisasi sosial. Individu-individu yang berada dalam suatu kelompok dianggap saling meniru, sehingga saling memperkuat dan memperbesar emosionalitas dan irasionalitas sesamanya. Teori baru tentang kekerasan kolektif inimenunjukkan bahwa pada dasarnya kekerasan kolektif muncul dari situasi kongkrit yang sebelumnya didahului oleh sharring gagasan, nilai, tujuan dan masalah bersama dalam kurun waktu yang lebih lama.

Demikian tulisan ini Penulis buat dengan harapan issue Konflik tidak semakin meluas dan peran Pemerintah dalam mewujudkan Daerah yang adil, aman dan sejahtera serta Masyarakat berperilaku bisa Saling menghargai. lebih rukun dan harmonis dalam bermasyarakat. Damai Itu Indah



PEACE

@RayyaGiri

Sumber : Bebagai artikel elekronik







3 komentar:

  1. Peteamax diamankan

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. smoga cepat ditangani oleh pihak brwajib, kalau tidak.....ada 'efek berantai'nya

    BalasHapus