gravatar

Rusa Indonesia dan Upaya Pelestariannya




Rusa merupakan salah satu jenis satwa yang termasuk dalam bangsa (ordo) Artiodactyla, anak bangsa (sub-ordo) Ruminansia dan suku (family) Cervidae. Saat ini diketahui tidak kurang dari 16 marga (genus), 38 jenis (species) dan 189 anak jenis (sub-species) rusa dengan sebaran aslinya yang tersebar di seluruh dunia, mulai dari daerah yang beriklim dingin di dataran Eropa, hingga ke daerah sub-tropis dan tropis di dataran Asia.
Di Indonesia, jenis rusa yang dijumpai adalah rusa sambar (Cervus unicolor), rusa timor (Cervus timorensis), rusa bawean (Axis kuhlii), dan kijang muncak (Muntiacus muntjak). Jenis-jenis tersebut tersebar luas di pulau besar dan kecil di Indonesia dan merupakan jenis-jenis asli Indonesia. Selain itu, terdapat juga jenis rusa totol (Axis axis) yang berasal dari India dan sudah beradaptasi dengan baik di Indonesia.
Rusa sambar merupakan rusa tropis yang terbesar ukuran badannya di Asia. Ukuran tubuh rusa sambar jantan dapat mencapai berat 225 kg dan betina 135 kg. Ciri-ciri dari rusa sambar adalah memiliki warna bulu bervariasi antara coklat hingga coklat kehitaman atau coklat kemerah-merahan. Rusa sambar yang telah dewasa memiliki rambut yang kasar, bagi anakannya mempunyai bintik-bintik pucat yang samar. Rusa sambar biasanya bersifat soliter (menyendiri), tetapi yang berkelompok umumnya terdiri dari dua individu.
Sebaran rusa sambar di Indonesia, dapat dijumpai di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan. Sebagai satwa terrestrial, sebarannya berada pada hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan. Paling umum terdapat dalam hutan sekunder, tetapi tidak terkecuali juga terdapat dalam hutan primer atau bahkan perkebunan atau ladang masyarakat. Kebutuhan akan sumber pangan menjadi dasar keberadaan rusa ini. Saat ketersediaan makanan utama sudah dapat terpenuhi dalam hutan primer, maka tidak akan mungkin rusa sambar memasuki ladang masyarakat untuk mencari makan.
Rusa timor merupakan rusa tropis terbesar ke dua setelah rusa sambar dan mempunyai banyak anak jenis, antara lain C. t timorensis, C. t russa, C. t maccassarius, C. t floresiensis, C. t jonga, dan C. t moluccensis. Berat badan dari jenis rusa timor berkisar antara 40 - 120 kg, tergantung pada anak jenisnya. Warna bulunya bervariasi antara coklat kemerahan hingga abu-abu kecoklatan. Tekstur dari rambut rusa timor lebih halus dibandingkan dengan rusa sambar. Perilaku sosialnya menyerupai rusa sambar yang lebih bersifat soliter (menyendiri).
Untuk sebarannya, rusa timor yang memiliki banyak anak jenis tersebar dari Indonesia bagian barat hingga ke Indonesia bagian timur. Penyebarannya antara lain pada Pulau Jawa, P. Sulawesi, P. Lombok, P. Flores, P. Banda, dan Kep. Maluku. Seperti halnya rusa sambar, rusa timor juga dapat dijumpai di hutan dataran rendah, yakni hutan primer dan hutan sekunder.
Rusa bawean termasuk kelompok rusa bertubuh kecil, dengan kisaran berat antara 25 - 40 kg. Warna bulunya bervariasi dari coklat kemerahan dan keemasan hingga coklat kehitaman dan bertekstur halus. Rusa ini memiliki habitat aslinya di Pulau Bawean dengan luas tidak lebih dari 200 km2 dan terletak 150 km dari Gresik. Secara umum, informasi yang dimiliki mengenai biologi rusa bawean masih sangat sedikit dan perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam.
Kijang muncak merupakan kelompok rusa yang bertubuh paling kecil di antara jenis-jenis rusa tropis yang ada. Tubuhnya yang kecil, sehingga seringkali terlupakan bahwa jenis ini termasuk ke dalam keluarga rusa. Bulunya terasa sangat halus dengan warna coklat kemerahan dengan permukaan bawah berwarna putih. Persebarannya berada pada Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan beberapa pulau yang berdekatan. Jenis ini umumnya ditemukan pada hutan sekunder.
Keempat jenis asli Indonesia tersebut, saat ini menjadi satwaliar yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Kebutuhan akan ranggah rusa dan dagingnya untuk dalam negeri ataupun luar negeri menjadikan satwa jenis ini dicari para pemburu. Hal ini bila tidak terkendalikan, bisa mengakibatkan populasi rusa di Indonesia semakin berkurang bahkan bisa punah di alam liarnya. Untuk itu, perlu dilakukan upaya pengawetan agar kelestarian jenis rusa tetap terjaga. PP No 7 tahun 1999, menjelaskan bahwa tujuan kegiatan pengawetan adalah sebagai berikut :
a. Menghindarkan jenis tumbuhan dan satwa dari bahaya kepunahan;
b. Menjaga kemurnian genetik dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa;
c. Memelihara keseimbangan dan kemantapan ekosistem yang ada;
Berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999, keempat jenis rusa asli Indonesia termasuk ke dalam satwa yang dilindungi. Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature and Cultural Resource) Redlist, rusa sambar dan rusa timor dikategorikan ke dalam Vulnerable (VU; Rentan), yakni status konservasi yang diberikan kepada spesies yang sedang mengalami resiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Rusa bawean termasuk ke dalam kategori Criticaly Endangered (CR; Kritis), yakni status konservasi yang diberikan kepada spesies yang menghadapi resiko kepunahan di waktu dekat. Kijang muncak yang memiliki ukuran tubuh paling kecil termasuk ke dalam kategori Least Concern (LC; Beresiko Rendah), yakni status konservasi yang diberikan pada spesies yang telah dievaluasi tetapi tidak termasuk ke dalam kategori manapun.
Ancaman utama terhadap jenis-jenis rusa ini adalah perburuan yang dilakukan manusia serta berkurangnya lahan dan padang penggembalaan yang menjadi kebutuhan rusa dalam mendapatkan sumber pangannya. Hal-hal ini dapat mengakibatkan kemampuan rusa untuk bertahan hidup di alam liar semakin berkurang dan mengakibatkan terjadinya kepunahan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pelestarian atas jenis-jenis rusa asli Indonesia. Salah satu bentuk pelestariannya adalah melalui pelestarian habitat yang menjadi sumber pangannya. Ketersediaan sumber pangan yang berlimpah akan menyebabkan pertumbuhan populasi rusa tetap lestari.
Kebutuhan rusa sebagai hewan ternak, dimana seluruh bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan dalam perdagangan maka perlu dibangun suatu industri peternakan. Industri ini haruslah dibawah koordinasi departemen kehutanan, dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk memonitor bahwa individunya sudah merupakan produk turunan dan dapat untuk dilakukan kegiatan komersial.

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/

Design @RayyaGiri

Entri Populer